Sejarah Wisata Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Sejarah Wisata Penduduk di Pulau Tidung

Tahukan Anda Fakta Sejarah Wisata Pulau Tidung? Kita coba ceritakan sejarah singkatnya. Mungkin dengan cerita ini dapat mengispirasi daerah lain untuk berbenah menjadi daerah tujuan wisata.

Sebelum menjadi daerah wisata seperti sekarang, Pulau Tidung merupakan daerah yang masuk wilayah terpencil. Bisa dibilang daerah tertinggal istilah dulu. Sebagian besar warganya masih bermatapencaharian sebagai nelayan. Bahkan banyak pemuda usia sekolah yang harus menjadi ABK kapal penangkap ikan. Mereka rata-rata ikut Juragan untuk melaut ke berbagai daerah yang kaya sumber ikan. Sebagai contoh daerah Belitung.

Sejarah Wisata Pulau Tidung Kepulauan Seribu

Dulu sebelum Listrik dari PLN masuk kesana, warga mengandalkan aliran listrik dari tenaga diesel. Listrik ini digunakan hanya untuk kebutuhan khusus seperti penerangan dan penunjang peralatan rumah tangga seperti pompa air. Rerata listrik hanya dihidupkan waktu malam hari saja. Bahkan kadang hanya beberapa jam dalam sehari.

Jembatan Cinta Dokumentasi tahun 2006
Jembatan Cinta Tahun 20016

Keadaan mulai berubah ketika akhir 2009 pemerintah membangun jaringan listrik bawah laut yang bekerja sama dengan PLN sebagai pemasok aliran listriknya. Saat itu aliran listrik dapat diakses 24 jam. Dari sinilah kemudian berbagai kemajuan mulai terasa di Pulau Tidung.

5 Fakta Sejarah Wisata Pulau Tidung

Berikut ini 5 Fakta Sejarah Wisata Pulau Tidung yang perlu kalian ketahui :

  1. Fase Awal Wisata Tahun 2009
  2. Wisata Mandiri
  3. Overload Pengjunjung
  4. Perbaikan Sarana dan Prasarana
  5. Menjadi Inspirasi Pulau Lainnya

1. Fase Awal Wisata Tahun 2009

Pada awal 2009 sebenarnya sudah ada beberapa wisatawan yang berkunjung ke Tidung. Hanya saja waktu itu mereka biasanya hanya singgah setelah kunjungan dari Pulau Resort. Mereka datang dengan Kapal Khusus bukan kapal penumpang seperti biasa. Wajar saja jika biayanya menjadi sangat tinggi untuk bisa berkunjung kesana.

Setelah listrik PLN masuk saat itu dibarengi juga dengan kedatangan beberapa orang backpacker dari Jakarta. Mereka inilah yang kemudian memberikan Ide untuk mengembangakan pariwisata di Pulau Tidung agar lebih murah dan mudah dijangkau. Ide ini kemudian disambut baik oleh para pengelola Kapal Angkutan Feri Tradisional.

Mulai saat itu banyak wisatawan yang datang berkunjung melalui pelabuhan Muara Angke. Dulu lokasi pelabuhan ini jadi satu dengan Pelabuhan Pelelangan Ikan sebelum akhirnya pindah ke Pelabuhan Kali Adem tahun 2013.

2. Wisata Mandiri

Setelah mulai banyak wisatawan yang datang berkunjung, warga pun memanfaatkan momentum ini untuk meraih rejeki. Warga ikut aktif berpartisipasi terlibat dalam kegiatan pariwisata. Mulai dari menyediakan penginapan atau homestay, menyediakan catering, membuat rental sepeda, menjadi pemandu wisata dan juga menyewakan kapal motor untuk snorkeling. Hal ini membuat perkembangan wisata menjadi lebih cepat dan pesat.

Semua perkembanga wisata ini hampir tanpa campur tangan pemerintah. Sarana dan prasarana yang ada masih seadanya. Meski demikian tidak menyurutkan keinginan para traveler untuk berkunjung kesini. Apalasi saat itu mulai ramai di media sosial tentang Jembatan Cinta yang merupakan Ikon Wisata Pulau Tidung.

3. Oveload Pengunjung

Wisata di Pulau Tidung menjadi semakin ramai dengan makin banyaknya jumlah pengunjung yang datang setiap minggunya. Sayangnya pertumbuhan pengunjung ini tidak seimbang dengan daya tampung penginapan yang ada. Maklum saja perkembangan penginapan ini memang secara bertahap. Sebagian besar penginapan adalah rumah warga yang disulap menjadi homestay sederhana.

Angka kunjungan wisatawan pertengahan 2010 saat itu rata-rata sekitar 3000 sampai 5000 orang per tiap akhir pekan. Puncaknya ketika masuk libur panjang ( long weekend ) pengunjung bisa mencapai di atas 5000 orang dan terjadilah overload. Banyak pengunjung yang tidak mendapat penginapan dan terpaksa harus bermalam di tempat umum seperti dermaga atau sekitar pantai.

Kondisi ini sempet menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi pemerintah setempat. Hal ini terbukti dengan beberapa kejadian yang tidak diinginkan.

4. Perbaikan Sarana dan Prasarana

Wisata jika mau berkembang memang harus didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karenanya Para Pelaku wisata di Pulau Tidung juga segera berbenah untuk memperbaiki segara sarana dan prasarana penunjangnya.

Sejarah Mode Transportasi Wisata Pulau Tidung

Kapal Feri Tradisional ke Pulau Seribu

Masalah utama yand dihadapi saat itu adalah terbatasnya moda transportasi yang tersedia. Pada awal mulanya hanya ada kapal feri tradisional atau kapal ojek istilah orang pulau seribu. Penambahan Jumlah armada kapal feri tradisional juga dilakukan bertahap. Selain itu juga kapal-kapal ini juga diperbesar guna menambah kapasitas penumpangnya. Tak lupa pula dilakukan modifikasi kapal menjadi memakai kursi tempat duduk, yang semula penumpang hanya lesehan saja. Armada kapal juga diwajibkan memenuhi berbagai standar keamanan kapal penumpang seperti jaket pelampung.

Kapal Cepat Speedboat dari Marina Ancol

Pada pertengahan tahun 2010 masuklah investor yang mengoperasikan Kapal Cepat Speedboat dari Dermaga Marina Ancol. Hal ini guna mengakomodir kebutuhan wisatawan yang ingin transportasi yang lebih cepat dan nyaman. Bahkan pertumbuhan kapal speedboat ini sangat pesat. Dari yang awalnya hanya 2 kapal kapasitas kecil, sekarang sudah menjadi puluhan kapal speedboat dengan kapasitas sampai 200 penumpang.

Pada awal tahun 2017 terjadi musibah kebakaran Kapal Penumpang Zahro Express. Kapal ini termasuk kapal feri tradisional yang sudah dimodif agak modern. Hanya saja faktor safety masih kurang diperhatikan pada desain kapalnya. Saat musibah terjadi setidaknya 23 Penumpang dinyatakan meninggal dunia dan hilang di lautan.

Setelah kejadian nahas tersebut, pemerintah pusat segera melakukan pembenahan besar-besaran pada transportasi kapal-kapal penumpang di kepulauan seribu. Salah satu yang wajib dilakukan armada kapal adalah melengkapi minimal jaket pelampung sesuai jumlah penumpang yang ada. Selain itu kapal-kapal ini juga wajib memenuhi standar pelayaran sesuai yang ada dalam aturan dinas perhubungan.

Kapal Expres Bahari ke Pulau Tidung dari Kali Adem Muara Angke

Paska musibah ini pemerintah membuka peluang investor untuk beroperasi di Pulau Tidung. Saat itu pemerintah menggandeng mitra dari Pelni yaitu Kapal Express Bahari. Kapal ini mulanya melayani pelayaran dari Pelabuhan Sunda Kelapa – Pulau Tidung. Namun karena sepi peminat akhirnya mereka merubah rutenya menjadi Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke – Pulau Tidung. Meski hal ini sepertinya juga menjadi ancaman tersendiri bagi keberlangsungan usaha para pemilik kapal feri tradisional.

Akomodasi Penginapan dalam Sejarah Wisata Pulau Tidung

Umumnya penginapan yang tersedia di Pulau Tidung adalah Homestay. Dengan semakin pesatnya kunjungan wisata, banyak warga yang kemudian membangun penginapan-penginapan baru yang lebih layak. Jika awal mulanya hanya memanfaatkan rumah-rumah warga yang disulap menjadi penginapan, maka sekarang sudah banyak rumah-rumah yang memang khusus dijadikan losmen atau homestay. Berbagai standar homestay juga wajib ada di setiap penginapan tersebut. Sebagai contoh setiap penginapan harus menyediakan pendingin ruangan ( AC ), Televisi, Kamar mandi di dalam, Pemanas Air ( Dispenser ) dan Air Galon.

Contoh Penginapan Homestay Tepi Pantai Pulau Tidung

Belakangan mulai juga ada beberapa penginapan dengan model semi hotel, semi cottage dan semi bungalow. Mereka berlomba-lomba membuat penginapan yang langsung menghadap pantai atau laut. Hal ini memang menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan yang hendak mencari tempat bermalam. Suasana pantai langsung didepan penginapan menjadi nilai jual yang sulit ditemui ditempat lain.

Idealnya saat ini Pulau Tidung dapat menampung sekitar 3000 sampai 5000 wistawan dalam semalam. Jika lebih dari ini biasanya mereka harus menggunakan rumah-rumah warga untuk menginap.

5. Menjadi Inspirasi Pulau Lainnya di Kepulauan Seribu

Setelah suksesnya wisata di Pulau Tidung, hal ini membawa berkah bagi beberapa Pulau Lain di Pulau Seribu. Sebut saja Pulau Pari, Pulau Pramuka, Pulau Untung Jawa, Pulau Harapan, dan lain sebagainya.

Pertengahan tahun 2012 Para Agen Travel Pulau Seribu mulai mengembangkan objek wisatanya ke pulau lain. Pulau Pari yang saat itu masih natural menjadi tempat berikutnya yang menjadi buruan para traveler. Berbagai alasan yang membuat para wisatawan ini untuk mencoba pulau lainnya salah satu karena ingin merasakan suasana baru agar tidak bosan jika hanya liburan ke Tidung saja. Menyusul kemudian Pulau Pramuka yang tadinya sudah mulai vacum menjadi menarik untuk dikunjungi kembali. Sebagai informasi Pulau Pramuka dan Untung Jawa adalah salah satu pulau yang dijadikan pulau wisata penduduk oleh pemerintah daerah. Namun saya waktu itu perkembangan begitu lambat sehingga sempat vacum.

Bukan cuma pulau penduduk yang mendapat berkah dari ramainya wisata, Bahkan Pulau Seribu Resort juga menjadi incaran para wisatawan baik lokal maupun asing seiring terkenalnya Pulau Seribu sebagai daerah destinasi wisata.

Dari penjelasan singkat, menurut Anda bagian mana yang paling menarik? Jika ada pertanyaan seputar Sejarah Wisata Pulau Tidung silahkan sampaikan di kolom komentar. Tim kami dari Prasaja Tour dengan senang hati membantu.

Leave a Reply